Translate

Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2016

Apa kabar kamu?

Hai, apa kabar? Kamu masih tetap sama ya. Aku dateng lagi. Maaf kalo telat. Aku disini baik-baik aja. Ayah, ibu, adek-adek juga begitu. Kita kangen kamu. Aku kangen kamu.

Semalem, g sengaja aku cerita tentang kita. Tentang bahagianya kita dulu. Tentang nakalnya kita dulu. Tentang gimana manjanya ku dulu sama kamu. Tapi aku tak bisa bercerita tentang kesalahan-kesalahan yang aku buat ke kamu. Aku takut isakku tak lagi mengalun perlahan. Oiya aku bercerita tentang kita sama laki-laki baru yang masuk ke hidupku. Kamu pasti kaget. Atau malah sudah bisa menebak. Miris ya? Kayaknya setiap kali aku datang selalu cerita tentang laki-laki yang baru. Mau gimana lagi? Bukan salahku dan bukan aku yang mau begini. Salah mereka yang hanya sejenak datang kemudian melenggang pergi.

Aku tak tau, akan seperti apa akhir ceritaku dengan laki-laki ini. Pasti kamu bosen dengernya, soalnya setiap kali aku dateng, pasti aku bercerita tentang laki-laki baru. Lagi dan lagi. Kamu selalu tau, dalam hati kecilku, aku selalu berharap ini yang terakhir. Aku selalu berharap drama di hidupku segera berakhir. Aku juga bosen setiap kali dateng selalu ada orang baru, sedang kamu masih tetap seperti itu.

Semoga kali ini bukan sebuah kesalahan. Dan sekalipun ini lagi-lagi sebuah kesalahan, aku berharap  tidak terlalu banyak hati yang dikecewakan. Tidak banyak orang yang terluka. Tidak terlalu dalam bekas luka yg tertinggal. Dan tidak membuatku menyerah akan hidupku.

Hahaha
Ayolah, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku menyerah akan hidupku. Kamu tau aku kan? Sekalipun aku harus jatuh berkali-kali, selama masih ada mereka, aku pasti kembali bangkit. Bagaimanapun caranya. Kamu yang meninggalkan mereka untukku, bagaimana mungkin aku juga meninggalkan mereka begitu saja. Setidaknya aku harus membuat mereka bangga terlebih dulu kan?

Anyway, kamu tau g, sekarang namaku sudah lebih panjang. Aku berhasil membawa gelar S. Pd. Gelar yang g sempat kamu dapetin. Hey... dulu kamu kan yang pengin kuliah. Aku? Engk. Kamu taulah gimana malesnya aku sama sekolah. Aku cuma pengin bareng kamu. Ngikutin kemanapun kamu pergi. Main. Sekolah. Ranking. Apapun itu.

26 Juli nanti, aku bakal pake toga. Dan ini buat kamu.
Bahagia ya disana. Aku juga bakal nyari bahagiaku disini.

Perempuan kecilmu yang selalu merindukanmu
Afriyani

Minggu, 14 Februari 2016

Merindukanmu Menyakitiku

Aku tidak tahu mengapa pelupuk mataku begitu penuh, mengapa malam ini pipiku menghangat, tenggorokanku sesenggukan, hingga aku terpaksa harus menggigit bibirku kuat-kuat. Aku tidak tahu mengapa keyboard laptopku basah. Kemudian telapak tanganku menutupi mulutku, agar tangis sialan ini mereda.
Masa, iya, sih, merindukanmu harus sesakit ini?

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.
Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba? Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.
Aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?
Kamu tak bisa. Tentu saja.

Minggu, 24 Januari 2016

Aku Merindukanmu...

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku. Tahukah kamu rasanya menjadi seorang perempuan yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu? Tahukah kamu rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Tahukah kamu betapa menderitanya jadi seorang gadis yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Tahukah kamu begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kamu melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita? Tahukah kamu perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan? Tahukah kamu lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali?

"Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi. Tiga minggu lagi. Satu bulan." Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kamu pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku ketika kamu tidak memberi kabarmu, ketika kamu tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kamu tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kamu yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Aku rindu semua pertanyaan yang kamu lontarkan padaku di tengah-tengah kesibukanmu bermain game. Aku rindu caramu membalas pesanku dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkanku lagi untuk beberapa jam, lalu menyapaku setelah pekerjaanmu dengan game-mu itu selesai. Betapa aku rindu menit-menit singkat yang aku lewati, meskipun aku harus melewati belasan jam dalam sehari, hanya untuk setiap menit berharga bersamamu.

Mungkin, kamu selalu bertanya, mengapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu? Kalau aku bercerita panjang lebar, tentu ceritaku akan menjadi sebuah buku tentang kisah yang kamu sebut drama. Dengarlah, duduklah di hadapanku, dan tatap mataku dalam-dalam. Aku sudah memperhatikanmu, sebelum kita saling menyapa. Aku sudah mencintaimu jauh-jauh hari, meskipun aku tidak pernah tahu siapa dirimu, bagaimana keseharianmu, siapa saja kekasihmu, siapa saja gebetanmu. Bagiku, semua itu tak penting. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu. Dan, akan terus begitu. Meskipun kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tahu.

Aku masih menanti, suatu hari kamu akan memperlakukanku sehangat kemarin. Dan kita tertawa, bercanda, memeluk awan, meraih bintang, menari bahagia di permukaan Saturnus. Aku masih menunggu, hari-hari saat kamu kembali. Dan aku bisa rasakan hangatnya pelukmu yang dulu pernah menjadi mimpi kecilku, bisa aku rasakan desah napasmu ketika kamu berbisik di telingaku, bisa aku rasakan denyut jantungmu ketika peluk kita begitu erat hingga sulit dilepaskan, bisa aku dengar suara mendhok-mu yang menyanyikan lagu Killing me inside, bisa aku rasakan rapatnya jemarimu ketika memegang jemariku, dan aku bersumpah demi apapun tidak akan melepaskanmu.

Aku masih menanti, pertemuan kita yang segera terjadi. Sungguh, aku tidak berharap lebih. Seandainya bisa bertemu denganmu, aku hanya ingin menatap sinar matamu, mata yang entah mengapa selalu membuatku percaya, masih ada cinta di sana.

Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu. Bisa aku rasakan anak rambut menyentuh wajahku. Kita.....

Beranikah? Aku menantangmu.

Minggu, 17 Januari 2016

Aku Harap Itu Kamu

Aku...
Ciuman yang kita lakukan minggu pagi, di awal tahun itu adalah ciuman pertamaku, bersama seseorang yang untuk pertama kalinya dalam hidupku selama 21 tahun ini benar-benar kusayangi. Sejak kapan, bagaimana, dan apa yang membuatku jatuh hati padamu? Sungguh, aku tak tau. Yang aku tau, di dekatmu aku tak perlu menjadi orang lain, tak perlu menjadi gadis manis, tak perlu berpura-pura baik, tak perlu malu mengatakan "aku menyukaimu" dan aku menyukai diriku apa adanya.
"I love you tiyas"
Meskipun tak pernah terucapkan pernyataan cinta yang mengharukan, tapi aku mendengarnya dari debaran jantung kita yang berirama ketika itu.

Aku berharap itu kamu, yang memegang jemariku kala aku kebingungan menentukan arah hidupku. Aku berharap itu kamu, pria yang dengan lembut memelukku ketika aku kelelahan menghadapi dunia. Aku berharap itu kamu, yang menemaniku keliling-keliling Jogjakarta, di bawah sinaran lampu jalanan, dan aku memelukmu layaknya orang yang paling takut kehilangan. Aku berharap itu kamu, pria yang mengecupku dengan sangat pelan, menenangkan tangisku yang sesenggukan, dan berkata bahwa semua akan tetap berjalan.
Dan aku telah memikirkannya lebih dari ratusan kali hingga kepalaku terasa mau pecah. 
"Aku tidak bisa kehilangan lelaki ini"
Karena itu... harapanku saat ini... Bisa bertemu denganmu setiap hari. Bilang aku mencintaimu setiap hari. Mendengar kau mengucapkan kata cintamu padaku setiap hari. Memimpikan mimpi yang sama setiap hari. Melahirkan anak kita, membesarkannya. Menjadi tua bersamamu. Mungkinkah itu?

Jumat, 01 Januari 2016

Perjalanan dan Pelajaran

Sebut saja ini adalah sebuah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. 

Setelah berulang kali menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun ternyata hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah merasa dialah orang yang tepat, sampai kepadanyalah hati kita menutup pintu rapat-rapat. Setelah segalanya yang terjadi, masihkah kita percaya dengan sebuah rasa? Namun seperti yang kukatakan, ini adalah perjalanan sekaligus pelajaran. 

Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Dan buatku, MELEPASKAN BUKAN PERKARA SIAPA YANG TIDAK BISA BERTAHAN. Tapi mungkin melepaskan adalah cara terbaik untuk kembali menemukan. Jika kita belum benar-benar menemukan, berarti kita masih ada di sebuah rel panjang. Hanya waktu yang bisa menentukan kapan kita akan pulang ke sebuah rumah, lalu menetap di sana. Terlalu sering disakiti, jangan membuat kita jadi kehilangan stok persediaan "maaf". Berbesar hatilah, bebaskan hati kita dari benci. Karena benci adalah penjara paling mengerikan. 

Aku tidak pernah menyesal atas peristiwa-peristiwa yang membuatku terluka, karena di situlah aku belajar untuk mendewasakan diri dan menerima. Aku tidak pernah merasa segalanya akan sia-sia, karena Tuhan selalu punya rencana. Selalu tempatkan BAHAGIA di hati kita, di ruang paling utama, tempat dimana kita bisa menyambut calon penghuni hati kita untuk menetap. Kita bebas untuk merasakan, menyebarkan, membagikan dan memilikinya. Jaga hati kita baik-baik, agar suatu hari nanti, kita bisa memberikan kepadanya yang terbaik. Jangan takut untuk merasakan sakit, jangan menyangkalnya dan jangan berjalan dengan spion masa lalu. Karena semua akan selalu tiba dengan cara yang berbeda. Jangan takut untuk mengutarakannya. BUKAN untuk sebuah PERLOMBAAN memenangkan hati, tapi mengapa di simpan jika memberitahu akan membuat seseorang merasa lebih bahagia? 

Aku sudah lama berada dalam sebuah perjalanan. Aku pun tidak benar-benar tahu, apakah aku sudah menemukan. Tapi aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru. Karena orang yang tepat, orang yang terbaik, sudah disiapkan oleh Tuhan. Jika kamu yang nantinya Tuhan berikan untukku, aku berjanji untuk menjagamu, mencintaimu tanpa titik henti. Kita akan berjalan maju, tanpa melirik pada masa lalu. Kita akan bahagia dan tak khawatir akan apa-apa. Satu hal yang perlu kamu tahu, dimanapun kamu berada, meski tanpa sebuah nama, tapi kepada calon priaku, kamu selalu ada dalam doa. Semoga kita bertemu, secepatnya, setepatnya. Aamiin.

Minggu, 20 Desember 2015

Selamat Malam Tuhan

Selamat malam Tuhan. Bolehkah aku sedikit bercerita sekaligus berharap pada-Mu?
Tuhan, saat ini aku masih mereka-reka skenario yang Engkau tuliskan untukku. Aku bingung dengan peran yang aku jalani. Aku masih sibuk mengira-ira, siapakah yang sebenarnya Engkau tuliskan untukku?
Tuhan, bolehkah aku memilih cerita yang lebih sederhana? Engkau pasti tau, aku pernah bercerita tentang kisahku dengan dia. Dia bilang kisah hidupku penuh drama, kayak sinetron. Tuhan, aku juga merasa seperti itu. Aku percaya, bahwa setiap cerita itu Kau tulis sesuai dengan kemampuan pemainnya. Tapi apakah ini tidak terlalu rumit untukku? Apakah ini tidak terlalu membingungkan untukku? Bukannya aku tidak bersyukur atas semuannya Tuhan, bukan. Tentu aku sangat bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan dalam hidupku ini.
Tuhan, jika aku tak bisa meminta padamu skenario yang lebih sederhana, tolong berikan aku kekuatan lebih untuk menyelesaikan skenario ini. Bantu aku memenangkan hatinya. Ciptakan rasa yang sama seperti apa yang aku rasakan untuknya, atau bahkan lebih. Karena aku yakin, dia lebih kuat daripada aku yang selama ini sering menjatuhkan air mata di depan-Mu.
Tuhan, kali ini aku ingin benar-benar bahagia bersamanya. Bukan senyum pura-pura seperti yang selama ini aku pertunjukkan di depan semua penontonku. Tuhan, aku ingin berhenti menjadi pihak yang selalu mengalah, tapi aku juga tak ingin menjadi egois untuk kebahagiaanku sendiri. Aku ingin bahagia bersama.
Tuhan, saat ini aku merasakan rindu. Entah aku merindukannya, merindukan kenangan bersamanya, atau keduanya. Saat ini aku sedang mendengarkan suaranya, petikkan gitarnya dan juga melihat fotonya. Aku juga melihat video pendek kebersamaan kpami. Aku tertawa bahagia. Lucu. Aku ingin mengulanginya. Bukan waktunya, tapi kebersamaannya.
Tuhan, aku ingin melewatkan malam itu bersamanya. Malam ketika sisa usiaku berkurang lagi. 
Tuhan, sampai hari ini perasaanku masih takut. Aku takut melanjutkan ini, takut kalau ternyata aku berjuang sendirian. Kalaupun aku harus berjuang sendirian, tolong izinkan aku memenangkannya, memenangkan hatinya.
Tuhan, semoga, semoga, dan semoga. Aamiin.


Kamis, 17 Desember 2015

Berjuang Sendirian ataukah Tamu tak Diundang?

"Dia yang tiba-tiba masuk sebelum saya mempersilahkan.."
Entah siapa yang dimaksud dengan dia disini. Aku yang kepedean atau memang benar itu untukku? Entahlah.

Jika ini bukan untukku, maka sekali lagi aku harus berjuang sendirian. Dan tahukah kamu, bahwa berjuang sendirian itu hal yang melelahkan? Aku yakin, kamu pasti tau itu. Mengingat betapa pengertiannya kamu. Tak apa. Bukan salah siapa-siapa apalagi salah aku ataupun kamu, jika memang aku harus sekali lagi berjuang sendirian. Karena ketika ini menyangkut perasaan, maka tak akan pernah ada yang bisa disalahkan. Rasa itu hadir dengan sendirinya. Entah karena kebosananku selama ini, entah karena rutinitas "kita" beberapa hari yang lalu, atau memang kamu dikirim Tuhan untuk menyembuhkan lukaku. Iya, karena selama ini aku hanya lari dari satu pria ke pria lain untuk menyembunyikan lukaku. Hanya bersembunyi karena nyatanya luka itu tetap ada. Tetap terjaga.

Dan jika memang tulisan itu untukku, emm... entahlah, aku harus senang atau sebaliknya. Senang rasanya kalau kamu berharap aku bisa membahagiakanmu. Tentu aku dengan senang hati akan membahagiakan orang yang aku pilih untuk kubahagiakan. Karena tanpa kamu mintapun, aku ada disini untukmu. Menunggumu mengulurkan tangan menyambut uluran tanganku. Tapi aku tak mau berbohong bahwa ada juga sedikit kesedihan yang kurasakan ketika membaca itu. Kenapa? Karena ternyata aku telah memasuki rumah yang pemiliknya belum mempersilahkan aku untuk masuk. Bukankah itu kurang pantas untuk dilakukan? Apalagi sebelumnya aku tak pernah memasuki rumah orang terlebih dahulu tanpa permisi.

Well, apapun itu tak akan menjadi masalah buatku. Karena saat ini aku juga sedang memantapkan pilihan. Meyakinkan hati, bahwa memang benar aku jatuh hati padamu, bukan sesaat. Sejujurnya aku tak ingin berharap terlalu jauh padamu karena takut nantinya hanya kekecewaan yang menantiku di ujung jalan. Tapi terselip sebuah pengharapan di setiap doa-doa panjangku, semoga kali ini tepat dan ini yang terakhir.
Karena aku takut untuk terluka lagi, Tuhan.


Sabtu, 14 November 2015

Mungkin Kamu.

Kemarin aku berpikir, aku sudah berlari jauh meninggalkan sakit itu, tapi ternyata aku seperti hanya berlari di atas treadmill. Aku masih di posisi yang sama. Sama ketika kamu melangkah diam-diam meninggalkanku, tanpa salam perpisahan, tanpa teriakan sumpah sarapah, tanpa makian. Seharusnya aku memakimu sekali. Seharusnya aku memukulmu sekali. Seharusnya aku meluapkan amosiku padamu setidaknya sekali. Hingga aku tak perlu tersiksa begitu lama. Hanyut begitu dalam, terbawa anganku yang masih tentang kamu.

Keingintahuan itu terkadang menyakitkan.  Keingintahuan pada orang yang tidak tahu ada kita yang mengawasinya dari kejauhan. Iya, sakit. Aku disini melihatmu, berharap kamu masih kadqng mengingat tentangku. Mengingat lagu yang pernah kita dengarkan bersama. Mengingat tempat yang pernah kita kunjungi bersama. Mengingat malam. Mengingat hujan. Mengingatku.
Pura-pura lupa berkali-kali tidak membawaku pada amnesia. Pura-pura sudah sembuh tidak membawaku pada tidur yang nyenyak. Pura-pura tidak menangis juga tidak membawaku pada senyum yang berkepanjangan. Tidak ada satupun hal nyata yang aku inginkan yang terjadi padaku dengan kepura-puraanku. TIDAK ADA.
Entah kenapa aku masih menikmati menuliskan semua ini? Mungkin sebagai pengingat bahwa aku, kamu dan dulu-disebut kita, pernah mengalami hal yang menyakitkan dan berat sebelum bertemu dengan orang yang meringankan segalanya dalam sisa perjalananmu. Mungkin juga sekedar caraku menikmati luka yang pernah kamu tinggalkan untukku.

Katakan padanya, dapat salam dariku. Kamu dari masa lalu, aku sungguh ingin memelukmu sekarang! Saat ini! Dan mendengar kamu berkata padaku "Semua akan baik-baik saja".
Aku tau, mungkin bukan sekarang waktu yang tepat untuk bertemu kamu. Dan aku akan sabar menunggu hingga detik itu tiba. Semoga saja aku masih utuh sampai saat itu tiba. Karena bukankah rumah yang terlalu lama ditinggal kosong oleh pemiliknya, lama-lama akan rusak? Sama seperti hatiku.
Mungkin kamu,
Orang yang terlelap di sampingku.
Afriyani

Minggu, 08 November 2015

Ada namun tak teraih

Ada namun tak teraih. Sama seperti tahun pertamaku di kota ini. Masih sama, rasanya. Akhirnya pun mungkin akan sama. Miris. Tapi mau bagaimana lagi? Ketika Tuhan mempertemukan ku dengan seseorang, semua pasti beralasan. Entah itu sekejap atau abadi. Entah itu belajar atau mengajarkan. Entah itu sementara atau selamanya.
Aku masih bertanya-tanya maksud Tuhan. Mungkinkah ini cara-Nya untuk ku melupakannya? Mungkinkah ini hanya sekedar persimpangan jalan yang harus aku pilih dengan segala konsekuensi yang menantiku di ujung sana? Aku masih bertanya-tanya.


Sabtu, 23 Mei 2015

Penggoda? Tamu atau Tuan Rumah?


 
Sebagian orang mungkin akan paham bagaimana rasanya mendapat label "penggoda". Sebagian lagi mungkin memilih menutup mata dan tak ingin berpendapat untuk itu. Lalu bagian paling kecil akan berpikir berkali-kali menggunakan kata tersebut untuk memberikan label "penggoda" pada seseorang. Sekalipun benar, orang tersebut adalah "penggoda", tolong jangan mengedepankan ego dan emosi sesaat untuk menilai orang lain. Apalagi hanya menilai orang lain lewat perkataan orang lain, itu seperti memakan muntahan dari orang lain. Cari tau terlebih dulu siapa yang memulai semua ini. Tidak ada tamu yang masuk jika tuan rumah tidak membukakan pintu. Tidak ada tamu yang betah berlama-lama tinggal jika tuan rumah tidak memberikan kenyamanan. Tidak ada.
Setiap orang memiliki perasaan. Bahkan orang yang berlabel "penggoda" sekalipun. Batu yang keras sekalipun lama-lama menjadi cekung saat pada bagian yang sama mendapatkan tetesan air terus-menerus. Sama, sebelum masuk ke dalam hubungan orang lain, tamu ini tidak berniat masuk, hanya sekedar lewat, yang kemudian secara tidak sengaja mengenal tuan rumah. ketika pintu dibuka, tamu tersebut apakah lantas langsung masuk? Selayaknya orang lewat, dia hanya berbincang ringan dengan seorang kenalan, karena merasa nyaman perbincanganpun berlanjut ke dalam rumah saat tuan rumah mempersilakan masuk. Ada saat si tamu ingin pulang. Saat si tamu sadar dia sudah terlalu lama berada dalam rumah orang lain, tapi tuan rumah masih menahannya "Berdiamlah sebentar lagi, kamu tega meninggalkanku sendirian? Aku kesepian. Aku nyaman ditemani olehmu" barangkali begitu cara menahannya jika diucapkan secara verbal. Memang ada kalanya si tamu ingin menjadi bagian dari si pemilik rumah, tapi itu hanya rasa keegoisan sesaat yang ditepisnya jauh-jauh. Si tamu sadar, akan ada masanya dia pulang, akan tiba waktunya tuan rumah merasa bosan dan memintanya meninggalkan rumah. Iya, waktunya telah tiba, ketika tuan rumah mengatakan "Aku ingin sendiri". Tamparan keras baru saja membangunkan tamu dari mimpi panjangnya. Logikanya berteriak atas kemenangan dari pertempurannya melawan perasaan. Jika si tamu adalah "penggoda", dia tidak akan diam menerima perlakuan tuan rumah.
Bukankah terlalu bodoh sebagai "penggoda" untuk menerima semua perlakuan tuan rumah setelah apa yang  tamu berikan? Menurutmu, apakah "penggoda" itu bahagia di tengah semua hal yang berkecamuk di hati dan pikirannya? Di tengah pertempuran perasaan dan logikanya? Apakah kamu mau bertukar tempat dengannya barang sehari saja? Apakah pantas label "penggoda" itu kamu berikan pada si tamu? Tolong pikirkan itu dengan kepala dingin.

Kamu baik, tapi tidak cukup baik untuk memberikan label "penggoda" pada orang lain.

Sabtu, 09 Mei 2015

Karena Kejujuranku Menyakitkan!


Kenapa aku bohong? Karena kejujuranku akan melukai semuanya, akan menyakitimu dan lebih menyakitiku. Saat itu terjadi, aku g yakin masih bisa menahan tangisku, aku g yakin masih bisa menahan emosiku, aku g yakin masih punya kendali atas tindakanku. Masih pengen aku jujur?
Karena dia berhasil menghancurkanku dalam hitungan bulan!
Karena dia yang sudah berhasil menyakitiku sampai aku pernah ingin mengakhiri hidupku!
Karena dia yang seperti itu dan aku masih menangis untuknya saat tau dia terluka karena wanita lain!
Lalu aku harus sebut apa perasaan macam ini?! Sayang? Cinta? Absurd!
Aku bahkan membenci diriku sendiri yang begitu lemah dan keras kepala.


Kenapa pesan-pesan itu masih ada? Kenapa foto ditempat sampah itu juga masih bertenger indah?
Karena selain bagian diriku yang keras kepala itu menginginkannya, sebagian diriku yang lain juga berjuang disana. Berjuang, biarpun pesan-pesan itu masih ada, tapi memastikan aku tidak membacanya. Bersikeras, biarpun foto ditempat sampah itu belum terbuang, tapi memastikan tanganku tidak akan merestorenya kembali.
 

Lihat! Lihatlah betapa kejujuranku menyakitimu, sekaligus menyakitiku 3kali lipat. Sakit karena harus sekali lagi menerima kelamnya kenyataan. Sakit karena sekali lagi diingatkan betapa menyedihkannya aku yang pernah ingin mengakhiri hidupku demi pangeran tak berperasaan! Dan sakit karena aku telah menyakitimu.

Tolong...

Jangan usik masa laluku. Sungguh aku ingin berdamai dengan hatiku. Berdamai dengan hidupku.

Minggu, 12 April 2015

Salam Perpisahan yang Tak Sempat Kusampaikan

Tahukah kamu?
Aku sering membayangkan hal indah sendirian seperti orang bodoh. Aku mempercayainya sendirian seperti orang bodoh. Dan aku berharap sendirian seperti orang bodoh. Walaupun tiga bulan adalah waktu yang singkat untukmu, tetap saja kamu tak perlu sekejam itu padaku. Kamu bilang ingin mempertimbangkan lagi hubungan kita? Shit! Itu cuma caramu memutuskanku. Tapi tenang, aku telah memutuskan. Mari kita berpisah.
Kamu selalu berkata "Bagaimanapun atau dimanapun kamu hidup, aku doakan agar kamu selalu bahagia" Kemudian aku akan menjawab "Pasti!" sembari menebar senyum sebagai tanda AKU BAIK-BAIK SAJA. PASTI BAIK-BAIK SAJA.

Sejujurnya, aku ingin tahu apakah masih ada kebahagiaan yang tersisa di diriku sekarang. Karena kurasa semua sudah kugunakan untuk membangun harapan, memikirkan hal indah, memimpikannya dan mempercayainya seperti orang bodoh sendirian. Hal yang tidak terbayangkan telah terjadi padaku sejak aku bertemu denganmu.
Aku ingin sekali menanyakan pertanyaan bodoh padamu. Bagaimana menurutmu jika aku memintamu melupakan segalanya dan memulai lagi? Tiga bulan memang waktu yang singkat tapi bisakah kamu bersamaku seperti dulu lagi?
"Maaf" pasti itu jawabanmu. Aku tau. Sangat tau.
Aku masih berpikir, mungkin akan menjadi sebuah takdir jika kita bertemu dalam situasi yang baik. Tidak akan sesakit ini jika kita ditakdirkan untuk bersama.

Kuminta, meski jika kita bertemu lagi, berpura-puralah tidak saling mengenal.

Mas, jaga dirimu.

Afriyani

Kusampaikan Surat yang Terabaikan

Aku menulis ini ketika air mataku telah mengering. Hanya mengering, nyatanya rasa sakit itu masih bisa kurasakan dengan sangat. Rasanya baru kemarin kita berbagi cerita panjang lebar dalam balutan tawa. Kemudian kamu memilih untuk berhenti membuka semua duniamu karena ingin melanjutkan pekerjaanmu. Sedang aku kembali hanya bisa menerima apa yang menjadi inginmu. Hanya menerima dengan senyum tercetak di wajah lelahku. Rasanya ingin kukeluarkan semua tenagaku untuk memaki, mengeluarkan segala sumpah sarapah yang telah membusuk dalam hati yang tak seberapa lapang. Aku kembali bukam untuk kesekian kalinya ketika mengingat status kita yang hanya teman biasa. Iya, kamu memutuskan mengubah status kita menjadi teman. Hanya teman.


Akhir-akhir ini, meskipun pekerjaanku sangat banyak, ternyata aku masih memiliki waktu untuk memikirkanmu. Di sela-sela ketika aku mengerjakan tugas-tugas kuliahku, aku masih berharap ponselku akan berdering dan menampilkan namamu di layarnya. Atau ketika aku menulis tentang karakter tokoh dalam ceritaku dan tokoh itu kurasa memiliki sesuatu yang sama denganmu, aku langsung mengingatmu dan meraih ponsel untuk menghubungimu, walaupun sekali lagi pesan-pesanku selalu kamu balas dalam hitungan jam atau bahkan kamu abaikan.

Aku, si penulis amatir yang kadang menangis dalam tulisanku sendiri sedang sibuk meraih dan memilih luka mana yang harus kuabadikan dalam tulisan. Haha... rasa sakitku saja kuperjual-belikan dengan sadarnya, lalu buat apa aku perduli dengan rasa sakit orang lain? Kemudian bayanganmu datang dengan membawa kebahagiaan yang sulit kupahami. Nyatanya kamu mengabaikanku dengan sangat gilanya tapi hal itu membuatku semakin ingin berada bersamamu.


Perkenalan kita biasa saja, itu semua karena keisenganmu yang menggodaku dalam aplikasi chat yang digunakan orang-orang kesepian, yang mencari kehangatan dalam balutan tulisan dan candaan percakapan. Kita terjebak dalam ruang itu dan aku tak bisa melawan bahwa ada kenyamanan yang kamu bawa dalam hari-hari sepiku. Kamu bercerita tentang dunia yang belum pernah kusinggahi, kamu bercerita mengenai pekerjaanmu, kisah cintamu yang hambar yang kamu sebut sebuah kesalahan dan andai kamu bisa mengulang waktu, kamu bilang ingin memperbaiki semuanya sampai kamu bertemu denganku. Kamu juga bercerita tentang keluargamu, dan segala hal yang membuatku merasa dihargai. Aku merasa punya hak tersendiri bisa mendengar cerita darimu yang mengalami langsung. Aku tak pernah berpikir bahwa kenyamanan ini akan berlanjut pada rasa takut kehilangan. Sementara kita, sedang dalam proses sama-sama ingin mengalihkan luka menjadi tawa. Aku tak tahu apakah kenyamanan tumbuh karena kebosananku pada rutinitasku selama ini atau memang sosokmu yang sengaja dikirimkan Tuhan untukku?


Caramu memperlakukanku membuat aku sering kali salah mengartikan kedekatan kita. Kamu memeluk tubuhku seperti seorang kakak, mencium keningku seperti seorang ayah, mencium pipiku seperti seorang kekasih, berbisik di telingaku seperti seorang sahabat, menemaniku layaknya saudara. Aku semakin terbiasa dengan semua tindakanmu. Aku tak ingin berharap terlalu jauh, tapi kedekatan kita tak bisa melarangku untuk tidak memiliki perasaan apapun padamu. Rasanya bohong satu juta persen kalau aku tidak mencintaimu dan tidak takut kehilangan kamu. Aku tahu kamu mungkin tak percaya ada cinta di mata seorang perempuan yang memiliki sejarah panjang sepertiku. Ingin kujelaskan bahwa penilaianmu itu salah, kamulah satu-satunya jawaban dari doa panjangku. Aku ingin membawamu berjalan lebih jauh lagi, tapi aku pun belum berhasil mengobati perih luka kita.


Aku terus ingin memelukmu, agar tidak pernah kehilangan kamu dan tak akan lagi mencicipi luka ditinggal saat sedang cinta-cintanya. Aku selalu ingin menahanmu pergi, ketika kamu harus kembali bergelut dengan dunia kerja, di saat-saat itu juga kamu menghilang dan tanpa kabar. Aku selalu ingin agar waktu berhenti ketika kita bertemu, sehingga aku bisa lebih lama memandangimu, memelukmu, mengajakmu membicarakan mimpi-mimpi kita. Harapanku begitu besar padamu dan aku yakin ini semua salahku karena berharap terlalu tinggi. Tapi, apakah berharap menjadi milikmu adalah keinginan yang terlalu tinggi? Kita sudah terlalu dekat, namun ada sekat tak terlihat yang memisahkan hati kita. Sekat yang bertuliskan "JANGAN LANJUTKAN ATAU KAMU AKAN TERLUKA SENDIRIAN."

Aku pernah menunjukkan air mata di depanmu dan kamu kebingungan mengapa wanita yang terlihat baik- baik saja seperti aku bisa menunjukkan air mata di depanmu? Sebenarnya, sederhana saja. Air mata itu terjatuh bukan karena inginku, tapi keinginan hatiku yang tak ingin kamu pergi, tak ingin kita berakhir tanpa alasan yang jelas, tak ingin kita berhenti berjalan ketika di ujung jalan sana kita telah melihat cahaya terang. Aku takut pada semua hal itu, pada kemungkinan-kemungkinan lain yang tak akan membuatku bahagia. Aku sudah menemukanmu dan tak ingin melepaskanmu, apalagi membiarkan wanita lain memilikimu. Sekarang, aku sedang ketakutan. Takut kamu berubah ketika aku sedang sangat merasa nyaman padamu. Aku takut kamu pergi ketika aku mulai meletakkanmu di sudut hatiku paling dalam. Ketakutan terbesarku adalah selama ini kamu hanya menganggapku temanmu dan ketika ada teman lain yang lebih baik, kamu akan pergi tanpa perasaan, seakan tak meninggalkan seseorang yang telah lama memperjuangaknmu.


Dari teman wanitamu yang pengecut.

Akhirnya Kukatakan...

"Aku ikut bahagia jika kamu bahagia."
Kalimat itu terdengar sangat muna bagiku. Kalimat yang hanya diucapkan oleh mereka yang tak bernyali, mereka yang telah gagal, mereka yang menyerah dengan keadaan. Iya, begitulah cara berpikirku dulu. Bagaimana mungkin aku bahagia melihat orang yang aku perjuangkan bahagia tapi bukan karena aku?


Mungkin Tuhan mengirimmu untuk merubah cara berpikirku. Memilih cara yang paling sulit aku mengerti. Aku yang terlalu kaku dengan egoku memilih jalan yang paling terjal. Jalan yang menjatuhkanku berulang kali, terperosok, tertatih. Dengan sekuat tenaga aku merangkak, terseok-seok melawan badai menuju rumah yang kuyakini adalah rumahku. Aku dengan hati yang tak seberapa lapang dengan ego yang membatu menganggap ini satu-satunya jalan yang harus aku lewati untuk sampai ke rumah yang aku yakini sepenuh hati adalah milikku.

Hingga kenyataan menamparku dengan begitu kerasnya. Menyadarkanku bahwa aku memiliki pilihan yang lain. Jalan yang amat sangat nyaman untuk aku lewati. Dengan selembar karcis yang harus aku miliki. Iya, keikhlasan. Bahwasannya aku harus menerima dengan kelapangan hati, bahwa rumah mewah di depanku bukanlah milikku.



Butuh waktu lama untukku berani menerima kenyataan. Waktu yang lama dengan siksaan sakit yang semakin tak terperi tiap detiknya. Waktu yang lama untuk aku memutuskan, bahkan jika bukan karena aku, bahkan jika tidak melihatku, bahkan jika bukan denganku, sudah cukup aku ada disisinya, aku bisa melihatnya, aku bisa mendengar suaranya. Kesakitan ini membuatku mampu mengatakan "Aku ikut bahagia jika kamu bahagia".

My Little Boy


Seperti menjadi rutinitas untuknya menjemputku sejak tiga tahun terakhir ini. Dia, laki-laki yang melindungiku dengan caranya. Laki-laki yang menyayangiku dengan caranya. Kepadanya aku rela membagi hatiku tanpa pernah sekalipun takut kehilangan.
Dia selalu tau pria-pria yang pernah menghancurkan tatanan hatiku. Kemudian dia akan berkata "Ngapain sih pacaran? Bikin males, repot, belum lagi kalo patah hati. Ngurusin diri sendiri aja enak, ngapain ngurusin anak orang"
Dan aku akan tertawa menanggapi protesnya. Cuma tertawa, karena nyatanya apa yang dia katakan memang benar. Bukannya aku menyesal pernah menjalin hubungan dengan beberapa pria, tapi kalo bisa aku kembali, aku memilih untuk tetap sendiri sampai aku benar-benar siap.
Aku belum pernah melihatnya melakukan apapun untuk wanita selain aku. Tapi aku yakin nantinya dia pasti punya satu wanita yang dia cinta sepenuh hati, yang akan dia kejar sepenuh hati, yang ingin dia jadikan istri.
Well, dia mungkin belum sampai pada tahap itu atau mungkin belum ada wanita seperti itu yang membuat dia sreg. Tapi aku yakin, nanti saat itu akan datang. Akan ada waktu dimana dia akan bertemu dengan wanita itu. Akan ada waktu dimana dia akan mencintai wanita itu dengan sepenuh hatinya. Akan ada waktu dimana dia akan mengejar wanita itu untuk mendampingi hidupnya. Dan akan ada suatu waktu dimana dia akan menghadap ayah, ibu, dan aku, kemudian berkata dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.

"Pinangkan wanita itu untukku Ayah."
Semoga Kebahagiaan Menyertaimu.