Translate

Minggu, 06 November 2016

Pengakuan Dosa


Untuk orang-orang yang selalu mendengarkanku.

Hari ini adalah hari terlelah yang aku pernah aku lewati. Aku memutuskan untuk membuat pengakuan dosa besar yang aku lakukan.

Kamu, orang pertama yang tau semuanya. Aku tau betapa kecewanya kamu sama aku. Tapi kamu tetap menenangkan aku. Aku sangat berterima kasih untuk hal itu. Setelah seharian yang aku lalui penuh air mata, nyatanya tidak mampu mengurangi rasa sakitku. Aku merasa justru semakin nyesak karena mengecewakan orang-orang yang diam-diam peduli terhadapku.

Mama. Perempuan paling tegar yang pernah aku kenal. Pelukannya membuatku meluruhkan semua rasa sakitku. Seakan mengangkat beban yang selama ini diam-diam kupikul sendirian. Tangisnya membuatku merasa ribuan kali lipat menyesal dan hancur. Aku membuatnya kecewa. Aku membuat bidadariku menangis. Ya Allah, rasanya aku tak sanggup melihat itu semua.

Mama tidak menghakimiku. Dia menerima keputusanku. Aku salah, tapi aku mengambil keputusan yang benar. Kalimat itu yang lagi-lagi meluluhlantakkan hatiku. Aku tak percaya memiliki malaikat sebaik itu sebagai ibuku.

Tuhan ...
Aku tau ini skenario hidupku. Skenario yang harus aku selesaikan. Aku berjanji tidak akanakan menyerah disini. Aku memiliki malaikat yang begitu sempurna untuk kubahagiakan. 
Tuhan ...
Tolong aku. Izinkan aku membahagiakannya sebelum aku kembali untuk menerima hukumanku di neraka-Mu.

Kamis, 23 Juni 2016

Apa kabar kamu?

Hai, apa kabar? Kamu masih tetap sama ya. Aku dateng lagi. Maaf kalo telat. Aku disini baik-baik aja. Ayah, ibu, adek-adek juga begitu. Kita kangen kamu. Aku kangen kamu.

Semalem, g sengaja aku cerita tentang kita. Tentang bahagianya kita dulu. Tentang nakalnya kita dulu. Tentang gimana manjanya ku dulu sama kamu. Tapi aku tak bisa bercerita tentang kesalahan-kesalahan yang aku buat ke kamu. Aku takut isakku tak lagi mengalun perlahan. Oiya aku bercerita tentang kita sama laki-laki baru yang masuk ke hidupku. Kamu pasti kaget. Atau malah sudah bisa menebak. Miris ya? Kayaknya setiap kali aku datang selalu cerita tentang laki-laki yang baru. Mau gimana lagi? Bukan salahku dan bukan aku yang mau begini. Salah mereka yang hanya sejenak datang kemudian melenggang pergi.

Aku tak tau, akan seperti apa akhir ceritaku dengan laki-laki ini. Pasti kamu bosen dengernya, soalnya setiap kali aku dateng, pasti aku bercerita tentang laki-laki baru. Lagi dan lagi. Kamu selalu tau, dalam hati kecilku, aku selalu berharap ini yang terakhir. Aku selalu berharap drama di hidupku segera berakhir. Aku juga bosen setiap kali dateng selalu ada orang baru, sedang kamu masih tetap seperti itu.

Semoga kali ini bukan sebuah kesalahan. Dan sekalipun ini lagi-lagi sebuah kesalahan, aku berharap  tidak terlalu banyak hati yang dikecewakan. Tidak banyak orang yang terluka. Tidak terlalu dalam bekas luka yg tertinggal. Dan tidak membuatku menyerah akan hidupku.

Hahaha
Ayolah, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku menyerah akan hidupku. Kamu tau aku kan? Sekalipun aku harus jatuh berkali-kali, selama masih ada mereka, aku pasti kembali bangkit. Bagaimanapun caranya. Kamu yang meninggalkan mereka untukku, bagaimana mungkin aku juga meninggalkan mereka begitu saja. Setidaknya aku harus membuat mereka bangga terlebih dulu kan?

Anyway, kamu tau g, sekarang namaku sudah lebih panjang. Aku berhasil membawa gelar S. Pd. Gelar yang g sempat kamu dapetin. Hey... dulu kamu kan yang pengin kuliah. Aku? Engk. Kamu taulah gimana malesnya aku sama sekolah. Aku cuma pengin bareng kamu. Ngikutin kemanapun kamu pergi. Main. Sekolah. Ranking. Apapun itu.

26 Juli nanti, aku bakal pake toga. Dan ini buat kamu.
Bahagia ya disana. Aku juga bakal nyari bahagiaku disini.

Perempuan kecilmu yang selalu merindukanmu
Afriyani

Senin, 07 Maret 2016

Bukan Janji

Sore itu aku hampir kehilangan kamu karena kebodohan ku. Iya, saat itu aku merasa lelah, sangat lelah hingga terbesit untukku menyerah. Tulisan yang penuh tawa nyatanya tetap tak mampu membendung tetesan demi tetesan air mata. Satu, dua, dan akhirnya tak mampu lagi kuhitung, karena tetesan itu telah berubah menjadi aliran derah. Kututup mulut rapat-rapat agar tangis sialan ini mereda. Sakit, sesak, juga pasrah. Iya, saat itu aku hanya pasrah ketika kupikir inilah skenario-Nya yang harus aku lalui.

Dering telepon yang menampilkan namamu pun tak mampu menghentikan tangis sialan ini. Dan aku tak ingin kau tau keadaanku saat itu. Aku tak peduli apa yang kau pikirkan tentang aku disana. Aku hanya ingin kau tau, aku baik-baik saja meski tanpamu. Ya Tuhan... inikah akhirnya? Iya, aku menerima jika memang harus berhenti disini. Hanya itu yang aku pikirkan. Menguatkan hatiku dengan sisa-sisa kemampuanku. Aku harus menyelamatkan hatiku. 

Aku buka notif di handphone ku dan itu dari kamu. Kamu tau apa yang aku lakukan pertama kali? Seperti orang yang kehilangan kewarasannya, aku memeluk handphone ku. Tidak, aku memelukmu yang jauh disana. Aku menangis, bukan lagi tangis sialan, tapi aku bersyukur. Dan aku pikir Tuhan telah menggetarkan hatimu. Jadi aku harus meluruhkan egoku, melenyapkan gengsiku, membuang topeng pura-pura yang kukenakan. 

Aku menyayangimu, sekarang. Semoga sampai nanti. Bukankah kamu tidak suka memberiku janji? Aku juga. Aku tidak bisa menjanjikan menyayangimu selamanya. Tapi aku mengucapkan itu dengan penuh kejujuran, bahwa aku menyayangimu. Dengan penuh harapan, semoga sampai nanti dalam waktu yang tak terbatas.

Kamis, 03 Maret 2016

Hujan dan Kenanganku

Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang dalam kerinduan, pembawa air mata, dan pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan.


Aha! Hujan ternyata masih jadi peran antagonis, dia kembali mengingatkanku padamu! Kamu yang enam tahun ini meninggalkanku tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan pengungkapan.

Ah... berdosakah aku kalau masih saja memikirkanmu? Enam tahun lalu, hanya kau saja yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, menghargai butir-butir kenangan halusnya.

Hujan kali ini, di sepotong sore yang dingin, benar-benar mengingatkanku pada rasa kehilangan, tentu saja rasa yang begitu dalam. Hilang? Saat aku berniat untuk mencari, pasti aku akan menemukan. Tapi, bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu? Di mana aku bisa menemukan seseorang yang selalu melindungiku sepertimu?

Sayang. Ah! Sayang? Panggilan yang tak pernah terucap sekalipun dari bibirmu. Hujan kali ini memang deras sekali, aku tak membayangkan kamu yang terbaring lemah disana, apa kau kedinginan? Oh ya, sudah sebulan aku tidak mengunjungimu ya? Apa kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu? Tidak usah dijawab! Aku tidak ingin mendengar jawaban dingin itu! Begini saja, besok aku akan mengunjungimu, membersihkan rumput-rumput liar yang mencoba menjamah nisanmu. Jangan menolak! Aku punya alasan sederhana untuk menjelaskan pemaksaanku. Aku hanya rindu. Itu saja. Sederhana. Rindu memang selalu sederhana kan?

Sabtu, 27 Februari 2016

Dalam Pelukmu.

Aku memeluknya rapat sekali. Tak sejengkal pun tubuh kami menjauh. Embusan napasnya terdengar hangat di telingaku, menelusup masuk ke dalam dadaku. Ia menerima pelukanku dengan ikhlas, tak bergerak banyak, hanya diam. Pejaman matanya sesekali terbuka, memandangku dengan tatapan lembut dan teduh. Mata itulah yang berkali-kali menghipnotisku, setiap kali aku memandanginya. Tatapan yang tak jemu-jemu kunikmati, sebelum waktu memisahkan kita nanti.

"Dingin." desahnya pelan.
Aku beraksi, kueratkan pelukanku. "Masih dingin?"
"Tidak. Terima kasih."

Senyumnya selalu begitu. Senyum yang lebih manis, dan semakin manis jika kupandangi terus-menerus. Jemariku menyentuh rambutnya yang hitam, dan semakin hitam karena ruangan yang gelap.

Ia tertawa kecil, mendekatkan bibirnya ke bibirku, lalu sekejap; jantungku berdegup kencang. Ia menciumiku, dan aku hanya bisa diam. Sungguh, aku merasa bodoh dan seperti anak kecil. Ini ciuman pertamaku. Aku tak menyangka dia akan seberani ini menciumku. Aku mengedip-ngedipkan mata, telapak tangannya menutupi mataku... dia kembali mengecupku.

Menit-menit yang berlalu dengan sangat manis, sungguh tak ingin kutukar dengan kebahagiaan lain yang mungkin lebih menjanjikan. Dia, yang begitu sederhana, benar-benar menjadikanku sempurna. Sempurna sebagai pria. Sempurna sebagai manusia. Aku masih menikmati bibirnya menjalari bibirku. Tak peduli bahwa menit-menit ini akan segera berlalu. Dalam dingin yang menusuk tulang, pelukkannya menghangatkan.

Terbiasa?

Aku selalu kehilangan kamu, lalu kembali menemukanmu. Maksudku, apakah kamu tak bisa benar-benar tetap tinggal? Sehingga saat aku membutuhkanmu maka aku tak perlu lagi mencarimu, maka aku tak perlu lagi repot-repot menunggumu untuk meninggalkan kesibukanmu.

Aku selalu bersabar dengan sikap dan tindakanmu, ketika kamu bahkan tak pernah ada disaat seseorang bertanya siapa seseorang yang menjadi sandaran hatiku saat ini. Aku selalu menunggumu ketika kamu bahkan tak akan kembali hari itu. Sebegitu tak berhargakah aku di matamu? Sebegitu tak bernilaikah aku di hidupmu?

Aku tidak pernah berkata BOSAN dan MALAS dengan sikapmu. Aku tak pernah berkata LELAH dengan semua perlakuanmu. Apakah dari semua kesabaran dan keikhlasanku ada hal tersembunyi yang membuatmu resah dan risih? Yang membuatmu tak ingin ditunggu dan tak ingin diharapkan lagi? Tak bisakah kau menganggapku ada, seperti aku yang selalu menganggapmu ada?

Aku tahu, mungkin kesibukanmu telah mengubah cara berpikirmu, yang juga ikut mengubah perasaanmu. Mungkin, kamu tidak  mengharapkanku. Mungkin, aku bukan siapa-siapa di hatimu. Dan, kemungkinan yang tidak pernah ingin kuketahui bahwa kamu tak ingin lagi diingatkan agar tidak telat makan olehku, bahwa kamu tak ingin lagi diperhatikan kesehatannya olehku, bahwa kamu tak ingin lagi membagi semua kesedihan dan kebahagiaanmu denganku.

Ternyata, kata BOSAN itu sangat berpengaruh dalam suatu hubungan, seiring berjalannya waktu, seiring dengan datangnya orang-orang baru di lingkunganmu sehingga sedikit demi sedikit mereka telah menggantikan tugas wajibku untuk memerhatikan dan mencoba mengerti keinginanmu. Kamu yang sekarang, kamu yang tak lagi aku kenal.

Tahukah kamu bahwa aku masih saja meminta Tuhan agar terus menjagamu? Tahukah kamu bahwa aku berkali-kali mengucap namamu dalam setiap doaku?  Entah mengapa semua perlakuan menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku. Entah karena hatiku yang mulai buta, atau karena aku yang merasa terbiasa tersakiti.

dari tulisan Dwitasari

Selasa, 23 Februari 2016

Tak Ada Lagi KITA

"Strawberry satu dan..."
"Moccacino satu." Aku melanjutkan pesananya, lalu kembali menatap wajahnya sesering yang aku bisa lakukan. Aku suka melihatnya salah tingkah ketika tau aku memperhatikannya. Rasanya aku tak pernah bosan melihat senyumnya. Manis.
"Tambah roti bakar coklat keju satu mbak." Dia melengkapi pesananya, lalu tersenyum ke arahku yang sedari tadi tak mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

Menghabiskan sore itu bersamanya dengan masing-masing segelas es krim (strawberry dan moccacino) yang ada di genggaman kami adalah salah satu kenangan yang dia tinggalkan untukku. Itu yang terlintas di benakku ketika aku menjejakkan kaki di kedai ini. Tentang dia, semua kenangan tentang dia.

"Biasanya orang minum es krim saat mereka sedih. Tapi buatku minum es krim nggak harus nunggu sedih dulu, iya nggak mas?" Aku mengawali perbincangan sore itu sebelum mulai menyuap es krim yang baru saja tersaji di hadapan kami.
Dia mengangguk dan tersenyum, menunggu dinginnya suapan pertamanya turun sampai tenggorokkan "Emm... Kamu lebih suka es krim apa kopi dek?"
"Dua-duanya suka mas. Hehe kenapa mas? Mas g suka ngopi? Cowokkan biasanya demen banget tuh sama kopi"
"Aku g begitu suka sama kopi, kan aku beda sama cowok yang lain, limited edition." Katanya dengan tangan meraih kerah bajunya dan bergaya sok cool. Ralat, beneran cool. Setidaknya di mataku.
Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum melihatnya bergaya di depanku, "Iya, iya. Limited edition, pesen satu dong mas. Bawa pulang boleh?"
"Boleh, tapi harus di taroh di kamar dek." Gurauannya semakin menjadi.
"Iya, ntar aku taroh dipojokkan kamar buat temen tidur kucingku mas." Tawa kami berbaur dengan riuh suara pengunjung kedai sore itu.

Dia bilang, es krim itu bisa mendinginkan hati saat hati sedang terbakar amarah. Entah, amarah apapun itu, akan selalu mereda. Es krim yang lembut itu, entah kenapa bisa melembutkan kembali hati yang mengeras. Es krim yang manis itu, bisa dengan tiba-tiba mengubah pandangan seseorang menjadi lebih positif, menerima apapun yang telah terjadi. Es krim juga yang memberikan pelajaran agar kita bisa cepat bertindak atas kesempatan yang kita miliki, sebelum es krim itu mencair dan tak berbentuk. Seperti kesempatan yang hilang, dan kita sudah tidak bisa menggenggamnya.
Iya, semua ucapannya kala itu pelan-pelan terserap dengan baik kedalam otakku. Melebur menjadi satu dengan aliran informasi apapun yang bisa kutangkap dari obrolan yang rasanya tak akan ada habisnya. Karena celotehnya begitu sayang untuk dilewatkan barang sedetikpun. Mendengarkan pandangannya tentang hidup, tentang kesempatan, tentang cinta, dan tentu saja... harapan. Menikmati setiap luruhan es krim yang terasa begitu manis dan merekam dengan hati-hati setiap detail kebersamaan kami. Dan mendapatinya disebelahku, cukup menggambarkan kalau aku ingin waktu berhenti disini. Mengabadikan kebersamaan kami, selamanya.

Lalu dia mengaitkan jemari kami, "Dek, bantu aku terus bahagia menerima dan menjalani hidupku."
Ya Tuhan, aku merasa ingin sekali memeluknya. Menguatkannya yang berusaha mendapatkan kekuatan dariku untuk menghadapi semuanya.
Aku membalas gengaman tangannya, "Aku ada buat mas, jangan pernah merasa sendiri." Kusajikan senyum termanisku, berharap itu bisa membuatnya lebih kuat dan yakin bahwa dia tidak sendirian.

Semenjak itu, aku tak pernah absen memberikan kabar untuknya, mengingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku terbiasa dengannya dan menjadi tak biasa tanpanya. Sampai akhirnya skenario-Nya berkata lain. Aku terpana melihat kalender yang baru saja berhasil kugantung manis di paku kecil yang menempel di dinding kamarku yang penuh dengan post-it tugas-tugas kuliahku. Tak terasa, sudah dua kali aku mengganti kalender semenjak hari itu. Hari di mana tak ada lagi 'kita'. Terhitung hingga hari ini, aku masih belum benar- benar melepaskannya.

Minggu, 14 Februari 2016

Merindukanmu Menyakitiku

Aku tidak tahu mengapa pelupuk mataku begitu penuh, mengapa malam ini pipiku menghangat, tenggorokanku sesenggukan, hingga aku terpaksa harus menggigit bibirku kuat-kuat. Aku tidak tahu mengapa keyboard laptopku basah. Kemudian telapak tanganku menutupi mulutku, agar tangis sialan ini mereda.
Masa, iya, sih, merindukanmu harus sesakit ini?

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.
Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba? Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.
Aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?
Kamu tak bisa. Tentu saja.

Minggu, 24 Januari 2016

Aku Merindukanmu...

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku. Tahukah kamu rasanya menjadi seorang perempuan yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu? Tahukah kamu rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Tahukah kamu betapa menderitanya jadi seorang gadis yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Tahukah kamu begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kamu melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita? Tahukah kamu perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan? Tahukah kamu lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali?

"Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi. Tiga minggu lagi. Satu bulan." Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kamu pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku ketika kamu tidak memberi kabarmu, ketika kamu tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kamu tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kamu yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Aku rindu semua pertanyaan yang kamu lontarkan padaku di tengah-tengah kesibukanmu bermain game. Aku rindu caramu membalas pesanku dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkanku lagi untuk beberapa jam, lalu menyapaku setelah pekerjaanmu dengan game-mu itu selesai. Betapa aku rindu menit-menit singkat yang aku lewati, meskipun aku harus melewati belasan jam dalam sehari, hanya untuk setiap menit berharga bersamamu.

Mungkin, kamu selalu bertanya, mengapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu? Kalau aku bercerita panjang lebar, tentu ceritaku akan menjadi sebuah buku tentang kisah yang kamu sebut drama. Dengarlah, duduklah di hadapanku, dan tatap mataku dalam-dalam. Aku sudah memperhatikanmu, sebelum kita saling menyapa. Aku sudah mencintaimu jauh-jauh hari, meskipun aku tidak pernah tahu siapa dirimu, bagaimana keseharianmu, siapa saja kekasihmu, siapa saja gebetanmu. Bagiku, semua itu tak penting. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu. Dan, akan terus begitu. Meskipun kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tahu.

Aku masih menanti, suatu hari kamu akan memperlakukanku sehangat kemarin. Dan kita tertawa, bercanda, memeluk awan, meraih bintang, menari bahagia di permukaan Saturnus. Aku masih menunggu, hari-hari saat kamu kembali. Dan aku bisa rasakan hangatnya pelukmu yang dulu pernah menjadi mimpi kecilku, bisa aku rasakan desah napasmu ketika kamu berbisik di telingaku, bisa aku rasakan denyut jantungmu ketika peluk kita begitu erat hingga sulit dilepaskan, bisa aku dengar suara mendhok-mu yang menyanyikan lagu Killing me inside, bisa aku rasakan rapatnya jemarimu ketika memegang jemariku, dan aku bersumpah demi apapun tidak akan melepaskanmu.

Aku masih menanti, pertemuan kita yang segera terjadi. Sungguh, aku tidak berharap lebih. Seandainya bisa bertemu denganmu, aku hanya ingin menatap sinar matamu, mata yang entah mengapa selalu membuatku percaya, masih ada cinta di sana.

Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu. Bisa aku rasakan anak rambut menyentuh wajahku. Kita.....

Beranikah? Aku menantangmu.

Minggu, 17 Januari 2016

Aku Harap Itu Kamu

Aku...
Ciuman yang kita lakukan minggu pagi, di awal tahun itu adalah ciuman pertamaku, bersama seseorang yang untuk pertama kalinya dalam hidupku selama 21 tahun ini benar-benar kusayangi. Sejak kapan, bagaimana, dan apa yang membuatku jatuh hati padamu? Sungguh, aku tak tau. Yang aku tau, di dekatmu aku tak perlu menjadi orang lain, tak perlu menjadi gadis manis, tak perlu berpura-pura baik, tak perlu malu mengatakan "aku menyukaimu" dan aku menyukai diriku apa adanya.
"I love you tiyas"
Meskipun tak pernah terucapkan pernyataan cinta yang mengharukan, tapi aku mendengarnya dari debaran jantung kita yang berirama ketika itu.

Aku berharap itu kamu, yang memegang jemariku kala aku kebingungan menentukan arah hidupku. Aku berharap itu kamu, pria yang dengan lembut memelukku ketika aku kelelahan menghadapi dunia. Aku berharap itu kamu, yang menemaniku keliling-keliling Jogjakarta, di bawah sinaran lampu jalanan, dan aku memelukmu layaknya orang yang paling takut kehilangan. Aku berharap itu kamu, pria yang mengecupku dengan sangat pelan, menenangkan tangisku yang sesenggukan, dan berkata bahwa semua akan tetap berjalan.
Dan aku telah memikirkannya lebih dari ratusan kali hingga kepalaku terasa mau pecah. 
"Aku tidak bisa kehilangan lelaki ini"
Karena itu... harapanku saat ini... Bisa bertemu denganmu setiap hari. Bilang aku mencintaimu setiap hari. Mendengar kau mengucapkan kata cintamu padaku setiap hari. Memimpikan mimpi yang sama setiap hari. Melahirkan anak kita, membesarkannya. Menjadi tua bersamamu. Mungkinkah itu?

Jumat, 01 Januari 2016

Perjalanan dan Pelajaran

Sebut saja ini adalah sebuah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. 

Setelah berulang kali menemukan, kemudian akhirnya melepaskan. Setelah berulang kali bersyukur atas sebuah pertemuan dan belajar atas perpisahan. Setelah berulang kali menemukan rumah, namun ternyata hanya dianggap sebagai tempat singgah. Setelah merasa dialah orang yang tepat, sampai kepadanyalah hati kita menutup pintu rapat-rapat. Setelah segalanya yang terjadi, masihkah kita percaya dengan sebuah rasa? Namun seperti yang kukatakan, ini adalah perjalanan sekaligus pelajaran. 

Aku tak pernah mendefinisikan perpisahan sebagai sebuah akhir. Dan buatku, MELEPASKAN BUKAN PERKARA SIAPA YANG TIDAK BISA BERTAHAN. Tapi mungkin melepaskan adalah cara terbaik untuk kembali menemukan. Jika kita belum benar-benar menemukan, berarti kita masih ada di sebuah rel panjang. Hanya waktu yang bisa menentukan kapan kita akan pulang ke sebuah rumah, lalu menetap di sana. Terlalu sering disakiti, jangan membuat kita jadi kehilangan stok persediaan "maaf". Berbesar hatilah, bebaskan hati kita dari benci. Karena benci adalah penjara paling mengerikan. 

Aku tidak pernah menyesal atas peristiwa-peristiwa yang membuatku terluka, karena di situlah aku belajar untuk mendewasakan diri dan menerima. Aku tidak pernah merasa segalanya akan sia-sia, karena Tuhan selalu punya rencana. Selalu tempatkan BAHAGIA di hati kita, di ruang paling utama, tempat dimana kita bisa menyambut calon penghuni hati kita untuk menetap. Kita bebas untuk merasakan, menyebarkan, membagikan dan memilikinya. Jaga hati kita baik-baik, agar suatu hari nanti, kita bisa memberikan kepadanya yang terbaik. Jangan takut untuk merasakan sakit, jangan menyangkalnya dan jangan berjalan dengan spion masa lalu. Karena semua akan selalu tiba dengan cara yang berbeda. Jangan takut untuk mengutarakannya. BUKAN untuk sebuah PERLOMBAAN memenangkan hati, tapi mengapa di simpan jika memberitahu akan membuat seseorang merasa lebih bahagia? 

Aku sudah lama berada dalam sebuah perjalanan. Aku pun tidak benar-benar tahu, apakah aku sudah menemukan. Tapi aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru. Karena orang yang tepat, orang yang terbaik, sudah disiapkan oleh Tuhan. Jika kamu yang nantinya Tuhan berikan untukku, aku berjanji untuk menjagamu, mencintaimu tanpa titik henti. Kita akan berjalan maju, tanpa melirik pada masa lalu. Kita akan bahagia dan tak khawatir akan apa-apa. Satu hal yang perlu kamu tahu, dimanapun kamu berada, meski tanpa sebuah nama, tapi kepada calon priaku, kamu selalu ada dalam doa. Semoga kita bertemu, secepatnya, setepatnya. Aamiin.

Minggu, 27 Desember 2015

Happy Birthday Afriyani


27 Desember 2015
Terima kasih Yaa Rabb, atas kesempatan yang Engkau anugerahkan kepadaku sampai detik ini.
Terima kasih Yaa Rabb, atas segala kenikmatan tiada terkira yang Engkau percayakan kepadaku sampai detik ini. 
Terimakasih Yaa Rabb.
Terima kasih mama tercantikku untuk doa-doa panjang yang selalu menyertaiku, terima kasih sudah menjadi malaikatku di dunia ini.
Terima kasih papa terhebatku. Your my hero. Aku bukan siapa-siapa tanpamu. Pria yang menyayangiku setiap detiknya dengan tulus. Benar-benar tulus.
Terima kasih Fiyan, Anna, Panca untuk menjadi alasanku berjuang sampai detik ini.
Buat alm.  yang selalu bersamaku, memberiku semangat, melindungiku, menjagaku, menyadarkanku, dan menjadi alasanku untuk tetap bertahan. Terima kasih.
Terima kasih buat teman-teman atas doa-doa dan ucapannya. Aamiin.

Semoga...
Aku bisa menjadi hamba-Mu yang semakin bertaqwa.
Aku bisa membanggakan dan membahagiakan malaikatku dan pahlawanku. 
Aku bisa menjadi pelindung, teman, dan kakak yang bisa kalian banggakan. 
Semoga doa-doa ku sampai padamu.
Semoga aku cepet LULUS kuliah dengan predikat cumlaude, dan bisa membanggakan dan membahagiakan mereka yang menyayangiku.
Semoga, semoga, dan semoga.
Happy ending for me!
Happy ending for us!
Aamiin.


Minggu, 20 Desember 2015

Selamat Malam Tuhan

Selamat malam Tuhan. Bolehkah aku sedikit bercerita sekaligus berharap pada-Mu?
Tuhan, saat ini aku masih mereka-reka skenario yang Engkau tuliskan untukku. Aku bingung dengan peran yang aku jalani. Aku masih sibuk mengira-ira, siapakah yang sebenarnya Engkau tuliskan untukku?
Tuhan, bolehkah aku memilih cerita yang lebih sederhana? Engkau pasti tau, aku pernah bercerita tentang kisahku dengan dia. Dia bilang kisah hidupku penuh drama, kayak sinetron. Tuhan, aku juga merasa seperti itu. Aku percaya, bahwa setiap cerita itu Kau tulis sesuai dengan kemampuan pemainnya. Tapi apakah ini tidak terlalu rumit untukku? Apakah ini tidak terlalu membingungkan untukku? Bukannya aku tidak bersyukur atas semuannya Tuhan, bukan. Tentu aku sangat bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan dalam hidupku ini.
Tuhan, jika aku tak bisa meminta padamu skenario yang lebih sederhana, tolong berikan aku kekuatan lebih untuk menyelesaikan skenario ini. Bantu aku memenangkan hatinya. Ciptakan rasa yang sama seperti apa yang aku rasakan untuknya, atau bahkan lebih. Karena aku yakin, dia lebih kuat daripada aku yang selama ini sering menjatuhkan air mata di depan-Mu.
Tuhan, kali ini aku ingin benar-benar bahagia bersamanya. Bukan senyum pura-pura seperti yang selama ini aku pertunjukkan di depan semua penontonku. Tuhan, aku ingin berhenti menjadi pihak yang selalu mengalah, tapi aku juga tak ingin menjadi egois untuk kebahagiaanku sendiri. Aku ingin bahagia bersama.
Tuhan, saat ini aku merasakan rindu. Entah aku merindukannya, merindukan kenangan bersamanya, atau keduanya. Saat ini aku sedang mendengarkan suaranya, petikkan gitarnya dan juga melihat fotonya. Aku juga melihat video pendek kebersamaan kpami. Aku tertawa bahagia. Lucu. Aku ingin mengulanginya. Bukan waktunya, tapi kebersamaannya.
Tuhan, aku ingin melewatkan malam itu bersamanya. Malam ketika sisa usiaku berkurang lagi. 
Tuhan, sampai hari ini perasaanku masih takut. Aku takut melanjutkan ini, takut kalau ternyata aku berjuang sendirian. Kalaupun aku harus berjuang sendirian, tolong izinkan aku memenangkannya, memenangkan hatinya.
Tuhan, semoga, semoga, dan semoga. Aamiin.


Jumat, 18 Desember 2015

Sepenggal Perkenalanku

Hai..
Namaku Tiyas Afriyani. Biasa dipanggil Tiyas, tapi manggil sayang juga boleh hahaha. But i hate to be called as Yani and dont ask me why. Saat ini sedang meneruskan studi di Fakultas ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang 2012. Merupakan anak gadis pertama dari empat bersaudara.
Punya hobi yang standar semua haha -_-
Hobi yang paling mainstream nonton film action, dengerin musik dan killing time bareng siapa saja yang penting aku g sendirian. Karena aku benci kesepian. Paling suka dimintain advice-nya buat masalah orang lain tapi masalah sendiri kadang malahan belum terselesaikan dan ngerasa apa yang aku lakuin just talk only. Ya tapi bener sih kata pepatah, "menyelesaikan masalah sendiri terkadang tidak semudah menyelesaikan masalah orang lain". Dan aku yakin, not only me that has a problem, everyone does, right? 
Kalau kata orang, aku tipe cewek yang gampang banget loncat dari satu hubungan ke hubungan yang lain. Well, aku g terlalu ambil pusing sama label yang orang kasih ke aku. Karena cuma aku yang tau persisnya seperti apa diriku. Orang bilang cewek ahli sejarah, tapi aku g menganut sistem girls remember everything. Aku pelupa. Inget tanggal bersejarah? Ulangan sejarah aja nilai pas-pasan -__-

Aku suka hujan dan benci serangga. Kenapa suka hujan? Hujan itu membuat tenang dan damai. Karena dalam guyuran hujan aku bisa menangis sepuasku tanpa perlu khawatir dilihat orang. Itu membuatku lega.
Aku suka warna merah dan hijau. Kenapa? Because red is sexy dan hijau itu alami, menenangkan. Dua warna yang bertolak belakang untuk menjadi satu kombinasi yang cantik.

Aku punya banyak kelemahan. Yang paling parah itu adalah susah move on! Terkesan gampang bosen jika itu bukan dari hatiku. Aduh gimana ya proses buat nyembuhin penyakit yang satu ini? But wait, aku setia dan komitmen kok kalau yang aku miliki atau yang aku lakukan itu dari hati, itu serius.

Cinta setengah hidup sama prosa dan cerita fiksi. Thats why orang-orang bilang aku melankolis mungkin ya.
Punya cita-cita jadi wanita karier yang sukses, ibu yang bisa dibanggakan anak-anakku (nanti), dan tentunya ISTRI TUNGGAL yang selalu dirindukan suamiku (nanti). Profesi yang tidak muluk untuk seorang gadis sepertiku. Buat sekarang yang bisa dilakukan adalah semampunya dan sebaik mungkin berusaha dan merangkai mimpi dengan indah.



HAPPY ENDING FOR ME!


Kamis, 17 Desember 2015

Berjuang Sendirian ataukah Tamu tak Diundang?

"Dia yang tiba-tiba masuk sebelum saya mempersilahkan.."
Entah siapa yang dimaksud dengan dia disini. Aku yang kepedean atau memang benar itu untukku? Entahlah.

Jika ini bukan untukku, maka sekali lagi aku harus berjuang sendirian. Dan tahukah kamu, bahwa berjuang sendirian itu hal yang melelahkan? Aku yakin, kamu pasti tau itu. Mengingat betapa pengertiannya kamu. Tak apa. Bukan salah siapa-siapa apalagi salah aku ataupun kamu, jika memang aku harus sekali lagi berjuang sendirian. Karena ketika ini menyangkut perasaan, maka tak akan pernah ada yang bisa disalahkan. Rasa itu hadir dengan sendirinya. Entah karena kebosananku selama ini, entah karena rutinitas "kita" beberapa hari yang lalu, atau memang kamu dikirim Tuhan untuk menyembuhkan lukaku. Iya, karena selama ini aku hanya lari dari satu pria ke pria lain untuk menyembunyikan lukaku. Hanya bersembunyi karena nyatanya luka itu tetap ada. Tetap terjaga.

Dan jika memang tulisan itu untukku, emm... entahlah, aku harus senang atau sebaliknya. Senang rasanya kalau kamu berharap aku bisa membahagiakanmu. Tentu aku dengan senang hati akan membahagiakan orang yang aku pilih untuk kubahagiakan. Karena tanpa kamu mintapun, aku ada disini untukmu. Menunggumu mengulurkan tangan menyambut uluran tanganku. Tapi aku tak mau berbohong bahwa ada juga sedikit kesedihan yang kurasakan ketika membaca itu. Kenapa? Karena ternyata aku telah memasuki rumah yang pemiliknya belum mempersilahkan aku untuk masuk. Bukankah itu kurang pantas untuk dilakukan? Apalagi sebelumnya aku tak pernah memasuki rumah orang terlebih dahulu tanpa permisi.

Well, apapun itu tak akan menjadi masalah buatku. Karena saat ini aku juga sedang memantapkan pilihan. Meyakinkan hati, bahwa memang benar aku jatuh hati padamu, bukan sesaat. Sejujurnya aku tak ingin berharap terlalu jauh padamu karena takut nantinya hanya kekecewaan yang menantiku di ujung jalan. Tapi terselip sebuah pengharapan di setiap doa-doa panjangku, semoga kali ini tepat dan ini yang terakhir.
Karena aku takut untuk terluka lagi, Tuhan.


Sabtu, 14 November 2015

Mungkin Kamu.

Kemarin aku berpikir, aku sudah berlari jauh meninggalkan sakit itu, tapi ternyata aku seperti hanya berlari di atas treadmill. Aku masih di posisi yang sama. Sama ketika kamu melangkah diam-diam meninggalkanku, tanpa salam perpisahan, tanpa teriakan sumpah sarapah, tanpa makian. Seharusnya aku memakimu sekali. Seharusnya aku memukulmu sekali. Seharusnya aku meluapkan amosiku padamu setidaknya sekali. Hingga aku tak perlu tersiksa begitu lama. Hanyut begitu dalam, terbawa anganku yang masih tentang kamu.

Keingintahuan itu terkadang menyakitkan.  Keingintahuan pada orang yang tidak tahu ada kita yang mengawasinya dari kejauhan. Iya, sakit. Aku disini melihatmu, berharap kamu masih kadqng mengingat tentangku. Mengingat lagu yang pernah kita dengarkan bersama. Mengingat tempat yang pernah kita kunjungi bersama. Mengingat malam. Mengingat hujan. Mengingatku.
Pura-pura lupa berkali-kali tidak membawaku pada amnesia. Pura-pura sudah sembuh tidak membawaku pada tidur yang nyenyak. Pura-pura tidak menangis juga tidak membawaku pada senyum yang berkepanjangan. Tidak ada satupun hal nyata yang aku inginkan yang terjadi padaku dengan kepura-puraanku. TIDAK ADA.
Entah kenapa aku masih menikmati menuliskan semua ini? Mungkin sebagai pengingat bahwa aku, kamu dan dulu-disebut kita, pernah mengalami hal yang menyakitkan dan berat sebelum bertemu dengan orang yang meringankan segalanya dalam sisa perjalananmu. Mungkin juga sekedar caraku menikmati luka yang pernah kamu tinggalkan untukku.

Katakan padanya, dapat salam dariku. Kamu dari masa lalu, aku sungguh ingin memelukmu sekarang! Saat ini! Dan mendengar kamu berkata padaku "Semua akan baik-baik saja".
Aku tau, mungkin bukan sekarang waktu yang tepat untuk bertemu kamu. Dan aku akan sabar menunggu hingga detik itu tiba. Semoga saja aku masih utuh sampai saat itu tiba. Karena bukankah rumah yang terlalu lama ditinggal kosong oleh pemiliknya, lama-lama akan rusak? Sama seperti hatiku.
Mungkin kamu,
Orang yang terlelap di sampingku.
Afriyani

Minggu, 08 November 2015

Ada namun tak teraih

Ada namun tak teraih. Sama seperti tahun pertamaku di kota ini. Masih sama, rasanya. Akhirnya pun mungkin akan sama. Miris. Tapi mau bagaimana lagi? Ketika Tuhan mempertemukan ku dengan seseorang, semua pasti beralasan. Entah itu sekejap atau abadi. Entah itu belajar atau mengajarkan. Entah itu sementara atau selamanya.
Aku masih bertanya-tanya maksud Tuhan. Mungkinkah ini cara-Nya untuk ku melupakannya? Mungkinkah ini hanya sekedar persimpangan jalan yang harus aku pilih dengan segala konsekuensi yang menantiku di ujung sana? Aku masih bertanya-tanya.


Sabtu, 23 Mei 2015

Penggoda? Tamu atau Tuan Rumah?


 
Sebagian orang mungkin akan paham bagaimana rasanya mendapat label "penggoda". Sebagian lagi mungkin memilih menutup mata dan tak ingin berpendapat untuk itu. Lalu bagian paling kecil akan berpikir berkali-kali menggunakan kata tersebut untuk memberikan label "penggoda" pada seseorang. Sekalipun benar, orang tersebut adalah "penggoda", tolong jangan mengedepankan ego dan emosi sesaat untuk menilai orang lain. Apalagi hanya menilai orang lain lewat perkataan orang lain, itu seperti memakan muntahan dari orang lain. Cari tau terlebih dulu siapa yang memulai semua ini. Tidak ada tamu yang masuk jika tuan rumah tidak membukakan pintu. Tidak ada tamu yang betah berlama-lama tinggal jika tuan rumah tidak memberikan kenyamanan. Tidak ada.
Setiap orang memiliki perasaan. Bahkan orang yang berlabel "penggoda" sekalipun. Batu yang keras sekalipun lama-lama menjadi cekung saat pada bagian yang sama mendapatkan tetesan air terus-menerus. Sama, sebelum masuk ke dalam hubungan orang lain, tamu ini tidak berniat masuk, hanya sekedar lewat, yang kemudian secara tidak sengaja mengenal tuan rumah. ketika pintu dibuka, tamu tersebut apakah lantas langsung masuk? Selayaknya orang lewat, dia hanya berbincang ringan dengan seorang kenalan, karena merasa nyaman perbincanganpun berlanjut ke dalam rumah saat tuan rumah mempersilakan masuk. Ada saat si tamu ingin pulang. Saat si tamu sadar dia sudah terlalu lama berada dalam rumah orang lain, tapi tuan rumah masih menahannya "Berdiamlah sebentar lagi, kamu tega meninggalkanku sendirian? Aku kesepian. Aku nyaman ditemani olehmu" barangkali begitu cara menahannya jika diucapkan secara verbal. Memang ada kalanya si tamu ingin menjadi bagian dari si pemilik rumah, tapi itu hanya rasa keegoisan sesaat yang ditepisnya jauh-jauh. Si tamu sadar, akan ada masanya dia pulang, akan tiba waktunya tuan rumah merasa bosan dan memintanya meninggalkan rumah. Iya, waktunya telah tiba, ketika tuan rumah mengatakan "Aku ingin sendiri". Tamparan keras baru saja membangunkan tamu dari mimpi panjangnya. Logikanya berteriak atas kemenangan dari pertempurannya melawan perasaan. Jika si tamu adalah "penggoda", dia tidak akan diam menerima perlakuan tuan rumah.
Bukankah terlalu bodoh sebagai "penggoda" untuk menerima semua perlakuan tuan rumah setelah apa yang  tamu berikan? Menurutmu, apakah "penggoda" itu bahagia di tengah semua hal yang berkecamuk di hati dan pikirannya? Di tengah pertempuran perasaan dan logikanya? Apakah kamu mau bertukar tempat dengannya barang sehari saja? Apakah pantas label "penggoda" itu kamu berikan pada si tamu? Tolong pikirkan itu dengan kepala dingin.

Kamu baik, tapi tidak cukup baik untuk memberikan label "penggoda" pada orang lain.

Sabtu, 09 Mei 2015

Karena Kejujuranku Menyakitkan!


Kenapa aku bohong? Karena kejujuranku akan melukai semuanya, akan menyakitimu dan lebih menyakitiku. Saat itu terjadi, aku g yakin masih bisa menahan tangisku, aku g yakin masih bisa menahan emosiku, aku g yakin masih punya kendali atas tindakanku. Masih pengen aku jujur?
Karena dia berhasil menghancurkanku dalam hitungan bulan!
Karena dia yang sudah berhasil menyakitiku sampai aku pernah ingin mengakhiri hidupku!
Karena dia yang seperti itu dan aku masih menangis untuknya saat tau dia terluka karena wanita lain!
Lalu aku harus sebut apa perasaan macam ini?! Sayang? Cinta? Absurd!
Aku bahkan membenci diriku sendiri yang begitu lemah dan keras kepala.


Kenapa pesan-pesan itu masih ada? Kenapa foto ditempat sampah itu juga masih bertenger indah?
Karena selain bagian diriku yang keras kepala itu menginginkannya, sebagian diriku yang lain juga berjuang disana. Berjuang, biarpun pesan-pesan itu masih ada, tapi memastikan aku tidak membacanya. Bersikeras, biarpun foto ditempat sampah itu belum terbuang, tapi memastikan tanganku tidak akan merestorenya kembali.
 

Lihat! Lihatlah betapa kejujuranku menyakitimu, sekaligus menyakitiku 3kali lipat. Sakit karena harus sekali lagi menerima kelamnya kenyataan. Sakit karena sekali lagi diingatkan betapa menyedihkannya aku yang pernah ingin mengakhiri hidupku demi pangeran tak berperasaan! Dan sakit karena aku telah menyakitimu.

Tolong...

Jangan usik masa laluku. Sungguh aku ingin berdamai dengan hatiku. Berdamai dengan hidupku.

Minggu, 12 April 2015

Salam Perpisahan yang Tak Sempat Kusampaikan

Tahukah kamu?
Aku sering membayangkan hal indah sendirian seperti orang bodoh. Aku mempercayainya sendirian seperti orang bodoh. Dan aku berharap sendirian seperti orang bodoh. Walaupun tiga bulan adalah waktu yang singkat untukmu, tetap saja kamu tak perlu sekejam itu padaku. Kamu bilang ingin mempertimbangkan lagi hubungan kita? Shit! Itu cuma caramu memutuskanku. Tapi tenang, aku telah memutuskan. Mari kita berpisah.
Kamu selalu berkata "Bagaimanapun atau dimanapun kamu hidup, aku doakan agar kamu selalu bahagia" Kemudian aku akan menjawab "Pasti!" sembari menebar senyum sebagai tanda AKU BAIK-BAIK SAJA. PASTI BAIK-BAIK SAJA.

Sejujurnya, aku ingin tahu apakah masih ada kebahagiaan yang tersisa di diriku sekarang. Karena kurasa semua sudah kugunakan untuk membangun harapan, memikirkan hal indah, memimpikannya dan mempercayainya seperti orang bodoh sendirian. Hal yang tidak terbayangkan telah terjadi padaku sejak aku bertemu denganmu.
Aku ingin sekali menanyakan pertanyaan bodoh padamu. Bagaimana menurutmu jika aku memintamu melupakan segalanya dan memulai lagi? Tiga bulan memang waktu yang singkat tapi bisakah kamu bersamaku seperti dulu lagi?
"Maaf" pasti itu jawabanmu. Aku tau. Sangat tau.
Aku masih berpikir, mungkin akan menjadi sebuah takdir jika kita bertemu dalam situasi yang baik. Tidak akan sesakit ini jika kita ditakdirkan untuk bersama.

Kuminta, meski jika kita bertemu lagi, berpura-puralah tidak saling mengenal.

Mas, jaga dirimu.

Afriyani